pingin Curhat

Cukup lama rasanya tangan ini tak merangkai kata-kata yang tersirat di kedalaman hati.Yang dulu sering kali menjadi sahabat paling setia mendengar,menampung curahan jiwa tanpa pernah mengeluh bosan.Waktu begitu tenang membawaku menjalani sisa-sisa usia.Ada rindu selintas kisah dulu acapkali terbebas rutinitas selalu terluang waktu untuk mengoreskan kesah hati.Syukur pada Rabbku yang masih melimpahkan Rahmad serta hidayahNya  yang tak terkira hingga detik ini masih di beri iman Islam dan senantiasa meluapkan kasih-sayangNya Bukti Allah ta'ala begitu mengasihi ciptaanNya.

10 bulan yang lalu Allah telah berkehendak mengubah jalan hidupku,memprtemukanku dengan hamba pilihan sebagai teman hati yang berjiwa lapang menerima segala kekurangan tanpa ada kesah.Dan selalu ku temui senyum di wajah pasnya.Hingga Allah ta'ala mempercayai kami untuk mengemban amanahNya.Allah mendengarkan doa-doa kami.Menghadirkan malaikat kecil dalam hidup kami sebagai penyejuk,penghibur hari-hari kami.Alhamdulillah masa-masa sulit itu telah ku lewati dengan semangat meski kadang aku harus terkapar oleh rasa malas yang berlebih ;(.Keluhan-keluhan selalu saja terlontar spontan ke pendamping jiwaku...perubahan hormon dalam tubuh cukup membuatku tak nyaman.Nafsu makan yang tiba-tiba hilang,mual kadangpun datang membuatku  lemas tak berdaya berakibat nafsu tidur naik dratis...

Bersyukur masa itu telah berlalu.....kini udah 7 bulan masa kandungan itu...udah bisa merasakan gerakan lembutnya hasil USG pun Alamdulillah si malaikat kecilku bagus dan normal....capek ach esok lagi di terusin

Mengintip dosa-dosa istri


1. BERLEBIHAN DALAM MENUNTUT KESEMPURNAAN
Ada tipe istri yang tenggelam dalam khayalan dan berlebihan dalam menuntut kesempurnaan dari suaminya. Ia mengira bahwa pernikahan selalunya indah, rumahtangga adalah limpahan nikmat layaknya syurga firdaus; tiada kesusahan, beban berat ataupun kesulitan. Fantasinya selalu mengangankan demikianlah halnya pernikahan, tidak ada tantangan, penghalang atau problematika. Sehingga ketika ia berbenturan dengan realita berikut tanggungjawab yang harus dijalaninya, ia menolak dan tidak dapat menerimanya. Ia mengira dirinya telah salah dalam memilih pendamping hidup. Bahkan, tidak sedikit yang cenderung kepada perceraian guna membebaskan diri dari berbagai ikatan.

Hal ini terjadi (biasanya) karena lemahnya keimanan kepada Allah, kurangnya pendidikan seputar keluarga dan problematikanya, mendapat fasilitas yang memanjakan sejak kecilnya. Dan diantara faktor penyebabnya adalah karena terinspirasi oleh cerita-cerita fiksi, sinetron-sinetron televisi ataupun film-film yang menyuguhkan roman picisan, dimana kehidupan rumah tangga digambarkan sebagai sebuah kehidupan yang terbebas dari segala macam masalah.

Sebagian yang lain justru sebaliknya, dimana kehidupan rumah tangga digambarkan sebagai neraka jahannam yang tak tertanggungkan, sehingga menginspirasikan sikap antipati terhadap pernikahan (yang kemudian mengambil jalan yang dimurkai oleh Allah seperti hubungan sejenis, kumpul kebo alias berzina dan semisalnya). Dengan demikian tidak ada pandangan realistis dan adil untuk kehidupan rumah tangga.

Maka sebagai istri yang cerdas, mesti bersikap adil dalam mengarahkan pandangannya. jangan sampai ia terlena dialam mimpi, tersesat dibelantara imajinasi dengan menuntut kesempuraan dalam hidup rumahtangga. Kehidupan pernikahan bukanlah pertunjukan yang ditampilkan hanya dalam satu periode waktu, bukan juga cerita dimana penulisnya bebas berkelana dialam maya. Namun, kehidupan pernikahan adalah realitas nyata. Didalamnya ada penderitaan dan cita-cita, ada gembira dan ada sengsara. Dan tidak ada pilihan selain menghadapi, menikmati dan memperlakukannya dengan baik. 

Yang harus difahami, bahwa pernikahan adalah sikap saling tolong menolong, saling menghargai, saling berkasih sayang, menerima serta mengakui kekurangan pihak lain. Permasalahan dan kekurangan yang menghadang ditengah perjalanan tidaklah menghapus kebahagiaannya. Bahkan terkadang permasalahan itu menjadi penyedap atau rahasia kebahagiaan sebuah pernikahan. Maka, memikul tanggung jawab dan menerima beban berat serta berbagai konsekuensi merupakan faktor terbesar bagi wujudnya kebahagiaan.

Orang yang paling nyaman adalah orang yang paling banyak merasakan kepayahan, dan orang yang paling payah adalah orang yang paling sering hidup nyaman...

wallaahu a'lam
bersambung, insya Allah...

dari suamiku  untukku dan Para Istri